STIS Hidayatullah Dorong Lahirnya Generasi Berkarakter al-Qur’an

ujian puz

Oleh: Sukman*

Masa depan bangsa terletak di tangan generasi penerusnya. Sehebat apapun sebuah bangsa jika tidak dapat melahirkan generasi pelanjut, berarti dia dikalahkan dan tersisihkan oleh lainnya. Demikian urgensi keberadaan pemuda sebagai generasi penerus. Selanjutnya, estafeta tersebut bisa terwujud dengan adanya pendidikan sebagai wadah mutlak untuk menyiapkan kader pelanjut. Perlu digarisbawahi bahwa generasi yang wajib dilahirkan adalah generasi yang mampu mempertahankan dan memperjuangkan kedaulatan bangsa dan kesatuan umat, serta memiliki ruhani dan spiritual yang baik sehingga mampu memimpin dengan adil.

Menyadari ini, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIS) terpanggil turut ambil bagian dalam menyiapkan generasi pelanjut. Khususnya para pemuda yang berjiwa pemimpin dan berkarakter al-Qur’an. Dikatakan, karakter yang baik dilahirkan dari kebiasaan baik yang dilakukan secara kontinyu (berkelanjutan). Termasuk di dalamnya adalah faktor lingkungan, yang tak jarang diabaikan oleh sebagian manusia.

Inilah yang patur disyukuri oleh segenap stakeholder STIS Hidayatullah, bahwa potensi-potensi pendukung kebaikan dan visi besar itu dimiliki oleh STIS. Tinggal bagaimana merawat dan mengembangkan potensi tersebut untuk menjadi karakter bagi setiap mahasiswa.

Berikut, beberapa potensi atau agenda kegiatan mahasiswa yang menjadi penguat lahirnya alumni STIS Hidayatullah sebagai generasi berkarakter:

  1. Membaca al-Qur’an

“Hilir mudik silih berganti, menyandang kitab suci”

Potongan lirik lagu religi era 90-an di atas menggambarkan suasana keseharian santri di sebuah pesantren. Hal yang sama juga tercipta di lingkungan STIS Hidayatullah dalam kesehariannya. Dengan aturan boarding (berasrama) menjadikan setiap waktu selama 24 jam, mahasiswa terkontrol dengan sejumlah kegiatan yang positif untuk pengembangan diri, baik secara intelektual, spiritual, moral, ataupun mental di lapangan.

Secara khusus, aktualisasi diri secara spiritual mahasiswa tak lepas dari al-Qur’an. Untuk itu, mahasiswa lalu dikondisikan untuk berhalaqah di setiap waktu bakda shalat di masjid. Dengan halaqah tersebut, mahasiswa lalu dibagi per kelompok kecil yang masing-masing ditemani oleh seorang dosen pendamping. Mulai dari membaca al-Qur’an dengan baik, menghafalnya, mengulang hafalan (murajaah), mempelajari makna dan hikmahnya (tadabbbur), hingga mengamalkannya dalam keseharian. Alhamdulillah, saat ini, mahasiswa STIS Hidayatullah mampu menyetor hafalan baru satu juz di setiap semester.

  1. Shalat berjamaah

“Shalat shalat shalat, waktu shalat kurang 30 menit”

Ini pengumuman yang khas terdengar di lingkungan kampus STIS Hidayatullah. Suaranya datang dari pengeras suara masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak. Fungsinya, mengingatkan mahasiswa dan siapa saja yang berada di lingkungan tersebut untuk menghentikan segala aktivitas yang sedang berlangsung. Selanjutnya, mereka bersiap melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Siapapun, setiap laki-laki dewasa yang tak punya uzur syar’i diwajibkan melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid.

  1. Amal shaleh

Hari Ahad adalah hari istimewa bagi mahasiswa STIS khususnya,  dan bagi warga di lingkungan pesantren, secara umum. Hari itu, tanpa pandang usia dan jabatan atau status sosial, semua warga dan mahasiwa serta santri bekerja bakti bersama-sama. Mulai dari yang ringan seperti membersihkan lingkungan, memungut sampah sampai kerja berat, misalnya membantu para tukang mengecor atau menyelesaikan pembuatan bangunan fisik yang ada. Alhasil, nyaris semua gedung yang ada di lingkungan tersebut adalah buah karya tangan dari mahasiswa dan warga pada umumnya.

Inilah beberapa contoh kegiatan yang berpotensi mendukung lahirnya generasi pemuda, para lulusan STIS Hidayatullah yang berkarakter. Ada upaya sungguh-sungguh unruk menegakkan peradaban ilmu. Bahwa ilmu tersebut bukan sekadar apa yang dipelajari atau diketahui sebagai wawasan pengetahuan saja. Namun lebih dari itu harus diwujudkan dalam bentuk kampus yang islamiah, alamiah, dan ilmiah. Maka nikmat Tuhan manalagi yang masih kamu dustakan? Mari menjawabnya dengan usaha sungguh-sungguh menjalankan amanah mulia ini. Melahirkan generasi pemuda yang berjiwa pemimpin dan berkarakter al-Qur’an.

* Penulis adalah Wakil Ketua (Waka) I Bidang Akademik STIS

Leave us a Comment