Ujian al-Qur’an Mengawali Rangkaian UAS Ganjil STIS Hidayatullah 2019

apel puz

Memasuki pekan kedua 2019, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah mengadakan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil. Sedianya UAS Ganjil berlangsung selama dua pekan dan terbagi menjadi ujian presentasi (lisan) dan ujian secara tertulis.

Hal itu disampaikan oleh Ustadz Sukman, Wakil Ketua (Waka) Satu Bidang Akademik dalam keterangan tertulis kepada media. “Atas izin Allah, STIS mengagendakan ujian presentasi pada tanggal 7-11/1 dan sepekan berikutnya adalah ujian tertulis hingga 18/1/2019,” jelas Sukman, beberapa hari lalu.

Mengawali semuanya, mata kuliah al-Qur’an menjadi pembuka dari rangkaian UAS tersebut. Khusus materi al-Qur’an,  diadakan ujian secara terbuka di hadapan para dosen penguji. Selain untuk mengukur capaian hafalan dan kecermatan dalam menghafal, ujian ini juga dimaksudkan untuk mengetes kaidah bacaan sesuai makharij (tempat keluar) dan sifat-sifat huruf yang dibunyikan.

Materi al-Quran adalah salah satu mata kuliah inti yang menjadi unggulan di STIS. Seperti mata kuliah lainnya, mahasiswa berguru langsung kepada dosen-dosen yang berkompeten di bidang al-Qur’an. Di antaranya, Ustadz Mudzhirul Haq, Lc., jebolan Universitas al-Iman, Yaman dan Akademi Bena al-Ulama, Turki. Sebelumnya Muzhirul sudah meraih beberapa sanad terkait bacaan dan kualitas hafalan yang dimiliki.

Selain itu, ada juga Ustadz Hamudi, dosen yang pernah menimba ilmu di Universitas Islam, Madinah.  Sehari-hari selain mengajar, ustadz Hamudi juga sebagai Imam Masjid Agung Ar-Riyadh, Balikpapan. Kepadanya, mahasiswa belajar khusus tentang perbaikan bacaan (tahsin). Baik makharijul huruf ataupun sifat-sifat huruf.

Diharapkan, sarjana dai lulusan STIS Hidayatullah kelak mempunyai bekal yang cukup terkait al-Qur’an. Mulai dari bacaan yang standar, hafalan yang mumpuni, dan tentu saja yang utama adalah pemahaman yang baik dan pengamalan yang konkret di dalam mengaplikasikan ajaran al-Qur’an tersebut.

“Alhamdulillah. Sejak awal STIS Hidayatullah mendedikasikan diri bukan hanya sebagai perguruan tinggi yang belajar ilmu al-Qur’an semata. Tapi ada harapan menjadi miniatur peradaban Islam sebagai lingkungan alamiah yang mengamalkan amal ilmiah dan Islamiah,” terang Ustadz Sukman, Waka Akademik menguatkan.

Leave us a Comment