Gandeng PENA, DEMA STIS Adakan Bedah Buku Santri Menulis dan Nawaitu Menulis

pena bedah buku

Bekerja sama dengan komunitas santri penggemar literasi PENA (Penulis Muda Indonesia), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah mengadakan acara bedah buku Santri Menulis dan Nawaitu Menulis, di Aula Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Balikpapan, Kalimantan Timur, bebebrapa waktu lalu.

Agenda yang diramaikan oleh puluhan mahasiswa dan santri tersebut menghadirkan Abdul Ghofar Hadi (Penulis buku Catatan Kaki Santri), Masykur (Penulis buku Nawaitu Menulis), dan A Syakur (Editor buku Santri Menulis).

Selain bertutur soal isi buku dan berbagi pengalaman menulis masa santri, secara bergantian pemateri memberi motivasi tentang pentingnya menulis dan manfaat yang didapatkan. Para santri juga didorong untuk rajin menulis dan membaca. Bagi yang selama ini sudah rutin melakukan itu, didorong agar meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.

Di hadapan peserta, Abdul Ghofar mengawali dengan bercerita pengalaman mendampingi santri ikut kompetisi mading tingkat Provinsi Kaltim. Singkat kata, meski minim pengalaman dan fasilitas, tapi tim yang diasuhnya dari santri Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra (MARAMA) Balikpapan justru meraih juara satu Lomba Mading se-Kalimantan Timur, waktu itu, tahun 2005 yang digelar salah satu surat kabar terbesar di Kaltim.

“Ini bukti sederhana, kalau santri itu bisa apa saja. Sebab mereka punya modal percaya diri dan kreativitas tinggi, termasuk dalam urusan menulis,” ucap Abdul Ghofar pada acara yang dimoderatori M Dinul Haq, alumnus Universitas Islam Madinah.

Sama dengan dua pemateri sebelumnya, Masykur juga rupanya adalah aktivis mading di masa nyantri. Bahkan saking gokilnya, ia pernah menyulap sebelah dinding lemarinya sebagai Mading Mandiri alias pribadi.

“Iseng saja sebenarnya. Cuma itu menyenangkan,” kenangnya tersenyum.

Soal motivasi, hal berbeda disebut Syakur dalam paparannya. Santri asal Balikpapan itu justru mengaku tidak pernah bercita-cita jadi penulis atau wartawan sebelumnya.

Lazimnya santri, ia menikmati lingkungan pesantren begitu saja. “Saya juga sama dengan kalian, suka briejing dan nebeng,” ujarnya menyebut dua istilah asing kebiasaan santri yang populer di pesantren itu.

“Cita-cita saya sejak dulu ingin berguna bagi agama dan bangsa,” ucapnya diplomatis. “Itulah yang bikin saya menikmati apa saja yang diamanahkan,” tutur pemrakarsa mading di zaman santrinya dulu.

Untuk diketahui, PENA lahir dari diskusi di grup media sosial (medsos), 10 September 2015 lalu. Mereka merasa gelisah akan fenomena medsos sekaligus potensi santri sebagai satu elemen anak bangsa. Secara resmi komunitas literasi ini didirikan di Jakarta dan dideklarasikan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

“Alhamdulillah, buku “Santri Menulis” adalah karya perdana PENA dalam bentuk buku. Selebihnya ada ratusan tulisan anggota PENA yang tersebar di berbagai media cetak dan online,” paparnya selaku Sekjen PENA Pusat.

“Ibarat alinea, buku ini adalah paragraf pertama. Mohon doanya agar paragraf-paragraf berikutnya, lahir secepatnya” tutupnya memohon doa.

Rangkaian acara bertema “Penulis Muda Hidayatullah Berkhidmat untuk NKRI” ini didukung oleh BMH, LPPH Gunung Tembak, STIS Hidayatullah, Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH), dan Hidayatullah.com.

 

Leave us a Comment