Modal Dakwah Kami Hanya Bismillah dan Sami’na wa Atho’na

STISHID — Pantang bagi seorang daiyah untuk menolak ajakan suami untuk berdakwah. Terlebih jika hal itu memang adalah perintah dari atasan. Sebab hidup ini hanyalah bermakna jika dimanfaatkan untuk dakwah dan agama Islam.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh ustadzah Jusmiati, seorang daiyah yang kini menghabiskan waktu berdakwah di Dumai. “Tidak ada kata ‘tidak’ untuk panggilan dakwah. Kami hanya berucap bismillah dan bermodal sami’na wa atha’na sewaktu ditugaskan ke daerah,” Ungkap Jusmiati.

Hingga saat ini, Jusmiati mengemban amanah selaku Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muslimah Hidayatullah Sumatera Barat dan Riau.

“Jangan ada rasa takut ketika hendak ditugaskan berdakwah ke daerah. Sudah sunnatullah, kenikmatan itu datang setelah kepayahan sebelumnya,”Ucap Mutmainnah, seorang daiyah yang ikut memberikan testimoni suka duka berdakwah di berbagai pelosok tanah air. Sejauh ini ustadzah asal Bulukumba tersebut sudah mencicipi beberapa titik dakwah di Pulau Sumatera. Kini ia menemani suaminya yang bertugas di daerah Depok, Jawa Barat.

Untuk diketahui, acara testimoni dakwah di atas adalah rangkaian kegiatan silaturahim atau temu kangen sesama mujahidah dakwah Hidayatullah yang digelar oleh Muslimah Hidayatullah (Mushida) Gunung Tembak. Acara diadakan di Aula Prasmanan, Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah, Balikpapan (10/11/2015) lalu.

Lain lagi kisah Muniroh. Ia mengaku baru nyantri di kampus Gunung Tembak tahun 1992. Waktu itu ia baru saja meraih gelar pendidikan strata satu (S1) dan dinyatakan terdaftar sebagai penerima Tunjangan Ikatan Dinas. Meski demikian, Muniroh tetap kukuh pada tekadnya, menjadi seorang santri di pesantren Hidayatullah Gunung Tembak waktu itu.

“Padahal tunjangan guru semasa itu “cuma” sebesar Rp. 7.500. Makannya pakai ikan berjilbab (red: ikan kecil yang digoreng dan dicampur tepung terigu) atau daun sayur sebanyak dua helai,” Terang Muniroh tersenyum.

Meski bertahan hanya dua tahun nyantri, tapi Muniroh merasa mendapat banyak hal utamanya makna pendidikan dan kehidupan yang hakiki. Yaitu pendidikan yang mengajarkan untuk mendahulukan urusan akhirat dan bersemangat mengurus agama Allah.

Menurut Muniroh, hal lain yang tidak bisa ia lupakan adalah ikatan persaudaraan yang tulus di antara santri dan para ustadzah. “Ada kerinduan yang membuncah untuk silaturahim ke kampus Gunung Tembak, utamanya di bulan Ramadhan. Ingin rasanya menikmati suasana berbuka puasa bersama santri seperti dahulu,” imbuh Muniroh.

Sebagai pamungkas, acara silaturahim Mushida tersebut ditutup oleh ustadzah Rosmala Dewi, seorang daiyah senior yang menjadi santri awal sejak masa perintisan Pesantren Hidayatullah dahulu.

Rosmala Dewi berpesan hendaknya setiap daiyah memperhatikan beberapa hal berikut ini. Pertama, meluruskan niat karena Allah. Kedua, membaharui iman dengan amal shalih. Ketiga, taat sepenuhnya dan menjalankan dakwah semaksimal mungkin. Keempat, senantiasa menguatkan ukhuwah dengan saudara seiman. Kelima, saling mendoakan serta yang terakhir adalah saling memaafkan.

“Mari senantiasa untuk saling mendoakan untuk istiqamah di jalan dakwah ini,” Ucap Rosmala menutup. */ Sahlah al Ghumaisa / STIS Hidayatullah

Berita ini juga dapat dibaca melalui Android. Segera Update aplikasi STISHID untuk Android . Install/Update Aplikasi STISHID Android Anda Sekarang !

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp