Kembali Dibuka

HAdirilah !!

Wisuda Sarjana Angkatan IX/X

STIS Hidayatullah Balikpapan mengundang kepada Alumni STISHID angkatan IX/X untuk menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana

Info Selengkapnya
Kembali Dibuka

PMB Kelas Khusus (EKSTENSION)

Tahun Ajaran 2016-2017

STIS Hidayatullah Balikpapan berupaya mengakomodir keinginan masyarakat yang ingin berkuliah tanpa harus mengganggu kesibukannya sehari-hari. Olehnya, manajemen STIS Hidayatullah pada tahun ini kembali membuka KELAS KHUSUS yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Info Selengkapnya
Tak Pernah Berhenti Melayani

Fasilitas

Menjadi salah satu keseriusan Kami

Melengkapi sarana fisik dan non-fisik adalah salah satu prioritas kami untuk menciptakan suasana kepengasuhan dan pembelajaran yang nyaman

Info Selengkapnya
Jurnal ulumul syar'i

KARAKTER MAHASISWA

  • Faqihu fid Diin (Faqih dalam Agama/Ulumuddin)

  • Mustaqim fil Manhaj (Konsisten terhadap Manhaj Ahlus Shunnah)

  • Mujahidun fii Sabilillah (Berjiwa Mujahid di Jalan Allah)

  • Mutqinun fil Mihnah (Profesional dalam Bidang Keahliannya)

  • Mukhlisun fil 'Amal (Ikhlas dalam Beramal

Berita Terbaru

Rabu, 08 Februari 2017

STIS Hidayatullah Resmi Buka Program Studi Hukum Ekonomi Syariah untuk Tahun Akademik 2017-2018

Penyerahan SK Oleh Direktur Diktis (Prof. Dr. Amsal Bakhtiar) kepada Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullag Balikpapan (Dr. Abdurrohim, M.Si)
Penyerahan SK Oleh Direktur Diktis (Prof. Dr. Amsal Bakhtiar) kepada Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullag Balikpapan (Dr. Abdurrohim, M.Si) Di Aula Gedung Kemenag Lantai 7, jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

STISHID
-- Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan resmi mendapatkan izin operasional untuk Program Studi (Prodi) S1 Hukum Ekonomi Syariah (HES). Kepastian itu didapat STIS Hidayatullah menjadi salah satu PTIK yang diundang untuk menerima SK Prodi dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) di Aula lantai 7 Kementerian Agama yang beralamat di jalan Lapangan Banteng Jakarta Pusat pada hari Kamis, (02/02/2017) waktu setempat.

Izin Operasional yang dimaksud berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 541 Tahun 2017 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pada Program Sarjana (S1) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta tahun 2017.

Dalam Izin operasional tersebut, Direktur Diktis Kemenag, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA menyetujui izin operasional untuk 26 program studi baru yang diajukan oleh 20 perguruan tinggi Islam swasta berbeda yang berada di bawah Diktis Kemenag yang terjaring dari berbagai provinsi di Indonesia.  Di awal tahun 2017 ini, STIS Hidayatullah menjadi satu-satunya perguruan tinggi Islam di Kalimantan yang menerima keputusan prodi baru tersebut.

Dalam acara pemberian SK tersebut, Kasubdit Pengembangan Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Muhammad Zein, M.Ag melaporkan jumlah prodi yang saat ini ada di bawah Diktis sudah terlalu banyak. Per 2015 lalu sata, ungkapnya, jumlah prodi di seluruh Indonesia itu sekitar 24.747. dan secara nasional prodi-prodi yang ada itu lebih banyak yang mengarah pada sosia sains system humaniora.

Sementara itu, Direktur Diktis Kemenag, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA berpesan kepada seluruh Rektor dan Ketua yang hadir untuk menjaga dan merawat Prodi yang telah diterima. Sebab menurutnya tahap ini (pemberian SK) merupakan komitmen dan keberpihakan Diktis terhadap perguruan tinggi Islam sebagai bagian dari rekasaya sosial.

“Mohon dipelihara dan dirawat betul (prodi baru yang telah dimiliki). Jangan sampai hari ini terima (SK), tiga bulan kemudian prodi baru tersebut mati,” ujarnya.

Pemberian dan penerbitan prodi ini sesungguhnya menjadi sangat penting bagi perguruan tinggi, dan itu bagian dari sains system humaniora yang sangat penting bagi (setiap) perguruan tinggi. Jadi harus dijaga dengan baik amanah ini. Demikian pesan singkatnya yang dirangkum saat memberi arahan.

Bagi STIS Hidayatullah sendiri, Perizinan operasional terhadap Prodi HES ini menjadi berkah tersendiri. Mengingat selama ini STIS baru melangsungkan 1 Prodi yang beroperasi, yaitu ahwal al syakhshiyyah. Dengan adanya prodi baru ini, maka STIS resmi memiliki 2 Prodi untuk Tahun Akademik 2017-2018 akan datang.

Saat dikonfirmasi stishid.ac.id, Ketua STIS Hidayatullah, Abdurrohim membenarkan hal tersebut. Abdurrohim mengatakan bahwa dengan adanya prodi HES ini, menunjukkan bahwa STIS yang telah dipimpinnya selama telah berada dijalur yang tepat untuk perlahan menuju ke cita-cita yang dititipkan oleh para pimpinan di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Dan langkah yang dimaksud adalah untuk secepatnya menjadi universitas.

“Tentu, Prodi baru ini menjadi langkah awal STIS Hidayatullah untuk beralih status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut ataupun langsung menuju Universitas. Semoga harapan untuk menjalankan amanah tersebut bisa terlaksana,” ujarnya kepada media ini.

Mencetak Kader, Menyemai Generasi, Membangun Peradaban

Proses Berlangsung

Sebelumnya, awak media stishid.ac.id  menerima berkas dari panitia persiapan percepatan dan pembentukan Program Studi baru STIS Hidayatullah yang diketuai oleh Abdul Kuat, MM.
Berdasarkan data, STIS Hidayatullah Balikpapan mengajukan dua program studi baru ke Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama pada tanggal 28 September 2016 silam. Dua prodi yang diajukan adalah Prodi S1 Hukum Ekonomi Islam (HES) dan Prodi S1 Zakat dan Wakaf. Pengajuan dokumen tersebut di antar langsung oleh Ketua STIS Hidayatullah.
Ajukan Prodi Baru, Ketua STIS: Ini Ikhtiar Menuju Institut Agama Islam Hidayatullah
Selanjutnya pada tepatnya tanggal 12 Januari 2017 Diktis mengutus dua visitor orang untuk melakukan visitasi terhadap dua program yang diajukan. Proses kajian dan visitasi terhadap dua prodi baru tersebut diketuai oleh Kasi Mutu Pendidikan Diktis, Dr. H. M. Adib Abdushomad dan ditemani oleh Ahmad Mahfud.

Dari laporan kajian dan visitasi yang berlangsung seharian tersebut didapati kesimpulan dari tim visitor bahwa Prodi HES layak dan sangat pantas untuk diloloskan, sedangkan Prodi Zakat dan Wakaf dirasa belum mencukupi beberapa syarat utama dalam pengajuan proses pengajuan prodi baru.

Tanggal 26 Januari 2016 STIS Hidayatullah mendapatkan surat elektronik dari Diktis yang memberitahukan bahwa Izin Operasional Prodi HES yang diajukan STIS Hidayatullah telah disetujui dan diterima dalam bentuk Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 541 Tahun 2017 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pada Program Sarjana (S1) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta tahun 2017.

Bersamaan dengan surat elektronik tersebut pula tertera undangan dari Direktur Diktis, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA yang ditujukan kepada seluruh Rektor atau Ketua Perguruan Tinggi yang telah menerima SK Prodi tersebut untuk mengambil langsung di Kantor Diktis Kementerian Agama RI pada tanggal 02 Februari 2017.*/Abu Luna - STISHID

Berita ini juga dapat dibaca melalui Android. Segera Update aplikasi STISHID untuk Android . Install/Update Aplikasi STISHID Android Anda Sekarang !

Senin, 09 Januari 2017

Inilah Tiga Nasihat Emas Buat Penuntut Ilmu

Stishid.ac.id - Bagi seorang mahasiswa atau penuntut ilmu, memasang target itu mutlak harus ada. Obsesinya harus tinggi tapi simpel sehingga mudah diukur nantinya. Motivasi pembakar itu disampaikan Muzhirul Haq, Lc. (Mahasiswa Pascasarjana Akademi Beena Ulama Internasional, Istanbul Turki) dalam acara “Silaturahim dan Pekan Motivasi” di Aula Masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Di hadapan puluhan mahasiswa STIS Hidayatullah, Uzil, sapaannya, menjelaskan bahwa motivasi besar itu bisa didapat jika mahasiswa punya target atau tujuan yang jelas dalam menuntut ilmu.
“Simpel saja, targetnya hafal al-Qur’an atau pandai bahasa Arab, misalnya,” ucap Uzil memberi pandangan.

Perkara lain bagi penuntut ilmu, lanjut jebolan Universitas al-Iman, Yaman, yang tak boleh disepelekan adalah kesungguhan belajar. Secara singkat, Uzil juga bertaaruf tentang pengalaman rihlah ilmiahnya mempelajari ilmu Islam.

”Mau belajar apa saja dan di mana saja, kuncinya satu. Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu,” pesan Uzil sambil menguatkan dengan kisah-kisah spektakuler para ulama dahulu.


Ustadz Muzhirul berpesan pula, untuk mengikat kedua urusan itu dengan berdoa dan tawakkal sepenuhnya kepada Allah. “Setelah pasang target dan bersungguh-sungguh (all out), maka jangan lupa perbanyak doa,” terang Uzil. “Banyak berdoa menunjukkan ilmunya berkah dan jauh dari sifat sombong,” lanjutnya lagi.

Terakhir, dosen muda STIS tersebut merekomendasikan beberapa matan (pokok) ilmu untuk dihafal dan dikuasai oleh mahasiswa. Di antaranya, Matan Ushul Tsalatsah atau Ushul Iman (akidah), Arbain Nawawiyah (hadits), Jurumiyah (nahwu), dan beberapa kitab dasar lainnya.

Diketahui, selama liburan kali ini, Ustadz Muzhirul juga menyempatkan mengisi berbagai kegiatan taklim dan pengajian lainnya di Balikpapan, Surabaya, dan Malang.*/ Azhari 

Editor: Admin STISHID 

Jumat, 06 Januari 2017

'Seberapa Dalam Cinta Kalian Kepada Nabi?'


Stishid.ac.id - Seorang Muslim yang cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) niscaya menghabiskan waktunya untuk yang dicintai tersebut. Mulai dari membaca, menulis, mempelajari kehidupannya hingga menghafal serta mengamalkan sunnah-sunnah Nabi.

Demikian kesimpulan yang tertuang dalam kegiatan Daurah Sirah Nabi yang diselengggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIS Hidayatullah Putri. Acara yang bertema  “Portrait Prophet Muhammad Saw” ini berlangsung selama tiga hari di Aula Serba Guna, Jl. Mulawarman Rt. 25, Balikpapan, baru-baru ini.

Dikatakan Ustadzah Hani Akbar, Dewan Murabbiyah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Pusat, persoalan sekarang, seperti apa kualitas kecintaan umat Islam kepada Nabinya. “Berapa waktu yang kalian gunakan mempelajari kehidupan Nabi? Berapa jauh ajaran dan sunnah-sunnahnya diamalkan dalam hidup ini?” gugah Hani Akbar bersemangat. "Itu semua menjadi ukuran, seberapa dalam cinta kalian kepada Nabi," lanjutnya.

Sebab, lanjut Hani, kualitas pemahaman sirah Nabi akan sejalan dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. “Yang memahami banyak tentang sirah Nabi  tentu bisa mengamalkan lebih sunnah yang diajarkan,” ucap Hani menjelaskan pentingnya belajar sirah Nabi.

Acara yang disesaki 150 orang peserta tersebut dibagi menjadi tiga sesi (hari). Sesi pertama, membahas periode leluhur dan silsilah Rasulullah Saw serta peristiwa sebelum kelahiran Nabi. Selanjutnya secara berturut, proses kenabian sampai periode Makkah dan Periode Madinah hingga nubuwat selesai.

“Alhamdulillah, bahagia rasanya bisa menimba ilmu tentang kehidupan Nabi. Materinya bagus, mudah dipahami,” ungkap Syahidah, mewakili peserta daurah. “Semoga kita semua mendapat syafaat Nabi di Hari Kiamat nanti,” lanjutnya berharap.*/ Nur Jannah, mahasiswi STIS semester lima.

Editor: Admin Stishid


Kamis, 05 Januari 2017

Gelar Baksos, BEM STIS Putri Adakan Pengobatan Bekam Gratis

Stishid.ac.id - Memanfaatkan liburan akhir tahun, Badan Eksekutif Mahasiswi (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri mengadakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos), baru-baru ini.

Kali ini BEM bekerjasama dengan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Wilayah Khusus Gunung Tembak Balikpapan dan membuka pengobatan gratis bekam secara massal di tengah masyarakat Salok Api, Samboja, Kab. Kutai Kartanegara .

Pengobatan massal yang bertajuk “Sehat Bersama Sunnah” itu dihadiri lebih dari ‎‎40 orang. Mereka kebanyakan berusia lanjut usia (lansia) dan merupakan anggota Majelis Taklim binaan Mushida. Ibu-ibu pasien tampak antusias berobat ala “Sunnah Nabi” tersebut. Hal itu terbukti dari respon mereka dan rela menunggu antrian untuk dibekam.

Diketahui, bekam atau hijamah adalah salah satu pengobatan yang diajarkan oleh Nabi. Caranya, dengan mengeluarkan darah kotor dari tubuh seseorang yang dianggap berpontensi jadi sumber penyakit.

“Harapannya, ke depan mahasisiwi STIS bisa menggelar baksos kembali dengan persiapan yang lebih maksimal. Kalau perlu digilir ke seluruh daerah binaan Majelis Taklim Mushida di kota Balikpapan,” Ujar Rohana, seorang peserta baksos.

Disebutkan, tujuan kegiatan baksos untuk membiasakan mahasiswi bersosialisasi dengan masyarakat. Selain itu, untuk melatih skill sebagian mereka yang tergabung dalam PSM (Pengembangan Skill Mahasiswi) Thibbun Nabawi. Sebuah program pembinaan dari Dept. Pendidikan BEM STIS Putri.

“Selain untuk pengobatan dan kesehatan, keahlian “Thibun Nabawi” mahasiswi juga bisa dimanfaatkan untuk sarana dakwah di masyarakat nantinya,” papar Istiqomah, Ketua Dept. Pendidikan.

"Alhamdulillah, senang rasanya bisa membantu masyarakat secara langsung. Semoga kami terdorong makin tekun belajar Thibbun Nabawi,” ucap  Shofiyyah Latifah, mahasiswi yang aktif di PSM Thibbun Nabawi.*/ Istiqomah, Dept. Pendidikan BEM STIS Putri