KARAKTER MAHASISWA

  • Faqihu fid Diin (Faqih dalam Agama/Ulumuddin)

  • Mustaqim fil Manhaj (Konsisten terhadap Manhaj Ahlus Shunnah)

  • Mujahidun fii Sabilillah (Berjiwa Mujahid di Jalan Allah)

  • Mutqinun fil Mihnah (Profesional dalam Bidang Keahliannya)

  • Mukhlisun fil 'Amal (Ikhlas dalam Beramal

Berita Terbaru

Kamis, 25 Mei 2017

STIS Semarakkan Ramadhan dengan Dakwah ke Pelosok


Stishid.ac.id - Liburan semester tak berarti santai apalagi berleha-leha bagi mahasiswa Muslim. Ada banyak karya dan manfaat yang bisa dibagi di masa lowong kuliah tersebut.

Demikian tekad mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Putri yang diwakili oleh mahasiswa semester enam. Selama tiga bulan ke depan (Juni-Agustus 2017), mereka menjalani program Praktik Kuliah Dakwah (PKD) di sejumlah pelosok nusantara.

"Alhamdulillah, ini program yang kami tunggu. Liburan semester bisa dimaksimalkan dengan karya bermanfaat insyaAllah," ucap Siti Maisaroh, mahasiswi asal Madura, Jawa Timur.

Menurut Maisaroh, Program PKD tersebut semacam praktik dakwah, juga sekaligus uji kemampuan dan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari selama ini.

"Iya, belajar itu tak mesti di ruang kelas. Sekarang ini masanya belajar dalam bentuk praktik dakwah di lapangan," ujar Maisaroh yang ditugaskan PKD di Mamuju, Sulawesi Barat itu.

Baca: Puluhan Mahasiswi STIS Dikirim berdakwah


Dalam acara Pelepasan Mahasiswa Program PKD, Wakil Ketua (Waka) IV Bidang Kemahasiswian, ustadz Kusnadi, juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlak Muslimah dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Menurut Kusnadi, pertama kali dinilai masyarakat adalah akhlaknya. Jika akhlak seorang daiyah (pendakwah) itu bagus, biasanya umat jadi mudah diajak kepada kebaikan. Sebaliknya, meski orang itu mengajak kepada kebaikan tapi tidak disertai dengan akhlak, maka umat malah menjauh dan tidak percaya terhadap ajakan itu.

"Dakwah kepada siapa pun, utamakan akhlak dan keteladanan," pesan Kusnadi menasihati dalam acara yang digelar di Aula “Marfuah” STIS Hidayatullah Putri, beberapa waktu lalu.

Diketahui, untuk program PKD tahun 2017, STIS Hidayatullah Putri kali ini menerjunkan 39 orang mahasiswi yang disebar ke  tak kurang dari 30 titik dakwah di berbagai pelosok.

Mulai dari PPU, Bontang, Melak, Berau di Kalimantan Timur hingga ke ujung Tarakan dan Nunukan di Kalimantan Utara, dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Selanjutnya mereka juga disebar merata di sejumlah kota/kabupaten di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Untuk daerah Indonesia Barat, beberapa titik juga ditempati PKD, di antaranya Bangka Belitung, Bekasi, dan Sukabumi, Jawa Barat.*/ admin STIS

Senin, 22 Mei 2017

Ketua LPPH: Berkah Ilmu itu Kalau Sibuk Berbagi Manfaat


Stishid.ac.id - Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan, Abdul Ghofar Hadi mengingatkan pelajar dan mahasiswa Muslim untuk tak cepat berpuas diri dalam mencari ilmu.

Meski status yang disandang sudah tamat wisuda atau alumni yang sudah lulus, itu bukan alasan untuk menutup buku atau tidak mau lagi belajar.

"Pintu ilmu bagi manusia terbuka sepanjang hayat dikandung badan. Ijazah itu hanya pintu awal untuk menyelami lautan ilmu berikutnya," pesan Abdul Ghofar dalam acara penamatan santri yang dihadiri oleh seluruh santri, orangtua/wali santri, dan tokoh masyarakat sekitar tersebut. 

Menurut Abdul Ghofar, indikasi ilmu diberkahi jika orang itu makin giat beribadah dan rajin mendekat kepada Allah. Bukan ilmu yang melalaikan dari ibadah dan berakhlak buruk

"Berkah itu kalau hari-harinya disibukkan berbagi kebaikan dan manfaat buat umat," lanjutnya.

Diketahui, menutup tahun ajaran ini, LPPH Balikpapan meluluskan tak kurang dari 300 orang santri dari berbagai jenjang pendidikan yang ada.

Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra dan Putri hingga Ma'had Tahfizh (Penghafal al-Qur'an) Ahlus Shuffah tingkat Wustha (MTs) serta Ulya (Aliyah) Putra dan Putri.

Selain itu LPPH juga meluluskan 50 orang alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan. Bagi alumni STIS, usai pembacaan Surat Keputusan (SK) Pengabdian Dakwah, para sarjana dai tersebut langsung menyebar ke sejumlah titik dakwah di pelosok nusantara.

Khusus kepada alumni STIS, Abdul Ghofar berpesan agar senantiasa menjaga ibadah dan akhlak yang baik di tengah masyarakat. "Ilmu itu bukan cuma di buku atau di ruang kelas. Tapi yang utama saat terjun ke lapangan bersama masyarakat," pesan Abdul Ghofar kembali.

"Tidak ada batas pengabdian, wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Jangan sampai ada yang meninggal sedang ia tidak menuntut ilmu atau mengamalkan ilmunya di tengah umat," pungkas Abdul Ghofar sambil mengutip potongan ayat al-Qur'an.

Untuk acara penamatan santri kali ini, LPPH mengambil momen tasyakuran dihuninya lokasi Bumi Tahfizh (Penghafal) al-Qur’an Ahlus Shuffah di kawasan Gunung Binjai, Balikpapan (Selasa, 16/07/2017). Sebagai informasi, sebelumnya lokasi tersebut baru saja mendapat bantuan penerangan berupa sambungan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Balikpapan. */ admin STIS   

Selasa, 16 Mei 2017

Pesan Dewan Senat STIS: Jaga Shalat Malam dan Rajin Baca Buku

Suasana Pembekalan Kader Dai Ramadhan saat diisi oleh ustadz Ahmad Rifai 
Stishid.ac.id - Shalat Lail (shalat malam) bukan hanya shalat sunnah yang lebih afdhal dari lainnya. Tapi juga punya kekuatan yang wajib dimiliki oleh setiap kader dakwah.

Penyampaian itu diterangkan oleh ustadz Abdul Qadir Jailani, anggota Dewan Senat Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah dalam acara Pembekalan Kader Dai Ramadhan, beberapa waktu lalu.
 
Menurut Abdul Qadir, shalat Lail adalah implementasi dari mukjizat surah al-Muzzammil, surat yang ketiga turun dalam tartib nuzul (urutan turun) setelah surah al-Alaq dan al-Qalam.

"Shalat Lail adalah kebutuhan mutlak seorang kader dakwah. Ini perintah sekaligus tradisi yang diwariskan oleh pendiri Hidayatullah, ustadz Abdullah Said," terang Abdul Qadir.

Selain meningkatkan spritual menghadapi bulan Ramadhan, ustadz yang terhitung santri awal Pesantren Hidayatullah itu juga berpesan agar mahasiswa giat membaca buku.

"Membaca juga hobi Abdullah Said dan itu selalu ditekankan kepada kadernya," imbuh ustadz yang pernah diamanahi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Toli-Toli, Sulawesi Tengah tersebut.

Terakhir, Abdul Qadir mengulang pesannya, untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadhan. Sebab baginya, spritual kader dakwah mengalami cacat ketika ia hanya sibuk berdakwah dan lalai dari menjaga hubungannya dengan Allah.

"Kalau pun ia ceramah dengan bagus, maka sebenarnya ceramah itu kering dari ruh," pungkas Abdul Qadir semangat.

Untuk diketahui, setiap tahunnya, bekerja sama dengan Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Balikpapan, STIS Hidayatullah menugaskan seluruh mahasiswanya untuk menjadi duta Zakat Ramadhan.

Mereka bertugas melayani masyarakat dengan mensosialisakan zakat selama bulan Ramadhan. Selain itu, ada juga yang bertugas sebagai imam shalat tarawih dan penceramah di sejumlah masjid.

Sedang khusus buat mahasiswi semester enam, mereka disebar ke sejumlah daerah dalam rangka program Praktik Kuliah Dakwah (PKD) selama tiga bulan, insyaAllah. */ Admin STIS

Senin, 15 Mei 2017

Ujian Skripsi, Jihad Ilmiah Mahasiswa STIS Membangun Peradaban Islam

Tim penguji skripsi STIS Hidayatullah berpose bersama usai sidang munaqasyah selesai
Stishid.ac.id - Menandai pertengahan bulan Sya'ban, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah menggelar ujian skripsi bagi 49 orang mahasiswa tingkat akhir STIS.

Ujian yang dikenal dengan Sidang Munaqasyah Skripsi itu diselenggarakan di tiga lokasi berbeda secara serentak. Yakni, kantor Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah, Aula Pertemuan "Amin Baharun" dan Aula Pertemuan "Marfuah". Dua lokasi terakhir masing-masing berada di gedung STIS Putra dan STIS Putri.

Dalam kegiatan yang bertajuk “Jihad Ilmiah untuk Membangun Peradaban Islam” tersebut, STIS menghadirkan tiga orang penguji dari Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. Masing-masing Prof. Dr. Akh Fauzi Aseri, M.A., Drs. Amin Jamaluddin, M.A., dan Dr. Nor Ipansyah, M.Ag. Penguji selainnya berasal dari STIS Hidayatullah sendiri.

Menurut Prof. Fauzi, ujian itu sudah langganan mahasiswa selama perkuliahan. Untuk mengukur apakah mahasiswa menguasai materi atau tidak, pahamnya berkembang atau tidak. “Jadi la takhaf  wa la tahzan,” jelas Prof. Fauzi dalam pengantarnya sebelum sidang dimulai.

Di hadapan mahasiswa teruji, Ketua Koordinasi Perguruan Tinggi Islam (Kopertais) XI Kalimantan tersebut menerangkan bahwa ujian skripsi adalah pintu awal untuk mendalami ilmu-ilmu yang ada. “Ilmu itu dalam makanya digali. Dibutuhkan ilmu dan inovasi terus menerus buat menjalani kehidupan ini dengan baik,” lanjutnya.

Lebih jauh, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan (LPP) Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi mengingatkan, ada permasalahan yang lebih berat bagi sarjana daripada sekadar menghadapi ujian skripsi.

"Ujian di ruang sidang itu jauh lebih mudah dari menjawab tantangan riil persoalan di masyarakat," pungkas Abdul Ghofar yang jadi penguji di Ruang Aula Pertemuan “Marfuah” STIS Hidayatullah Putri.


Untuk diketahui, untuk tahun ajaran  baru 2017 ini, STIS Hidayatullah sudah siap membuka dan menerima pendaftaran untuk Program Studi (Prodi) baru, yaitu Hukum Ekonomi Syariah (HES). Sebelumnya STIS fokus mengantar lulusannya untuk mendalami Prodi Hukum Islam atau Ahwal Syakhshiyyah. */ admin STIS

Baca juga: Berita Ujian Skripsi STIS Hidayatullah 2016

Baca juga: Berita Ujian Skripsi STIS Hidayatullah 2015